KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN SURABAYA

19/12/2018 - 10:37 PM
Selamat Datang di Website kami     BBPPTP Surabaya Sahabat Setia Petani (SiANI)     PNS BBPPTP Surabaya Tidak Menerima Gratifikasi Dalam Pelaksanaan Tugas Sesuai Ketentuan Yang Berlaku

Awas Ada Pestisida Palsu…

Di Publish Pada : 21/05/2018 | Kategori : PROTEKSI

Oleh:

Bayu Refindra Fitriadi, S.Si, M.Sc

Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda

 

Penggunaan pestisida pada pertanian saat ini masih menjadi prioritas utama petani dalam membasmi hama. WHO atau organisasi kesehatan dunia menyebutkan, 80% penggunaan pestisida terdapat di negara maju, akan tetapi 80% keracunan terhadap pestisida terjadi di negara berkembang. Sampai bulan April 2018 jumlah formulasi pestisida yang terdaftar dan diijinkan oleh Menteri Pertanian sebanyak 2.565 merek dagang. Tentu saja jumlah ini tidak termasuk produk pestisida palsu.

Perdagangan pestisida, terutama insektisida di Asia Tenggara terus meningkat, termasuk di Indonesia. Total nilai pasar pestisida nasional Rp 6 triliun per tahun. Nilai yang fantastis ini dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk mengedarkan pestisida palsu. Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 107 tahun 2014 tentang Pengawasan Pestisida, pestisida dikatakan palsu jika isi atau mutunya tidak sesuai label dan di luar batas toleransi. Pestisida dengan nama dagang, kemasan, dan label yang meniru pestisida legal pun dianggap palsu. Batas toleransi kadar bahan aktif berbeda-beda tergantung kadar bahan aktif pestisida itu sendiri. Dari total peredaran pestisida di Indonesia, diperkirakan sekitar 10-12% merupakan pestisida palsu. Pangsa pasar ini diprediksi akan semakin membesar lantaran lahan pertanian di Indonesia sangat luas dengan berbagai komoditas pertanian. Pestisida palsu yang beredar di masyarakat sangat merugikan petani. Di Indonesia total nilai produk pestisida palsu diperkirakan mencapai Rp. 400 miliar. Pestisida palsu umumnya beredar di sentra-sentra produksi komoditas pertanian, antara lain Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Jawa Timur, Sulawesi, Sumatera Barat dan Jawa Tengah. Penggunaan yang tinggi dan peredaran pestisida palsu yang marak menunjukkan lemahnya pengawasan dari instansi terkait dan kurangnya kewaspadaan dari petani sebagai pengguna pestisida.

Dampak pestisida palsu pada pertanian dapat menurunkan produksi petani. Hal ini dikarenakan penggunaan pestisida palsu dapat merusak tanaman karena mutu dan keefektifannya belum teruji nyata. Ekspor komoditas pertanian yang tercemar pestisida palsu juga dapat ditolak negara penerima. Selain kerugian secara ekonomi, keberadaan pestisida palsu juga mengancam kesehatan manusia yang mengkonsumsi komoditas pertanian yang terkena pestisida palsu tersebut sebab kandungan yang ada dalam pestisida palsu tersebut tidak diketahui secara pasti. Produk pestisida yang legal sudah dinyatakan aman oleh pemerintah dan sudah melewati berbagai uji penelitian, berbeda dengan pestisida palsu yang tidak diketahui keamanannya.

Selengkapnya


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 74
Total pengunjung : 16132

Polling

Polling Layanan Informasi Website

Bagaimana layanan informasi yang tersedia di website ini ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Raya Mojoagung No.52, Gambiran, Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61482, Indonesia
Telp. : (0321) 496430; 495842 Fax : (0321) 496430 ; 495842. Email : balaibesarsurabaya@pertanian.go.id