KEMENTERIAN PERTANIAN - DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN SURABAYA

15/11/2018 - 09:19 PM
Selamat Datang di Website kami     BBPPTP Surabaya Sahabat Setia Petani (SiANI)     PNS BBPPTP Surabaya Tidak Menerima Gratifikasi Dalam Pelaksanaan Tugas Sesuai Ketentuan Yang Berlaku

PENILAIAN DAN PENETAPAN BLOK PENGHASIL TINGGI DAN POHON INDUK TERPILIH TANAMAN JAMBU METE DI KABUPATEN NAGEKEO PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR

Di Publish Pada : 23/10/2018 | Kategori : PERBENIHAN

Oleh :

Neliyanti P. Donuata, SP

Pengawas Benih Tanaman Ahli Pertama

UPT Pengawasan dan Sertifikasi Benih

Dinas Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur

 

PENDAHULUAN

Jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan salah satu sumber devisa negara yang memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan petani di lahan marjinal. Jambu mete pada awalnya dikembangkan di Indonesia sebagai tanaman penghijauan di lahan marjinal. Pengembangannya sampai saat ini menyebar di seluruh Provinsi di Indonesia pada kondisi lahan dan iklim kering. Penanaman jambu mete di Indonesia sebagaian besar (97%) diusahakan oleh rakyat baik secara monokultur maupun polikultur dengan kondisi pertanaman yang bervariasi dari kurang baik sampai baik (Wawan Haryudin & Otih Rostiana, 2016).

Pengembangan potensi ekspor kacang mete Indonesia cukup besar, namun nilai ekspor kacang mete dari Indonesia masih sangat rendah. Dari data FAO dalam kurun 5 tahun (2004 – 2009) terjadi kenaikan nilai total ekspor – impor biji kacang mete sebesar 65 % (impor) dan 57% (ekspor). Kenaikan angka ini cukup besar yang mencerminkan kenaikan permintaan kacang mete dunia. Pada Tahun 2010 Indonesia menduduki peringkat ke 5 penghasil biji kacang mete terbesar di dunia. Walaupun potensi ekspor kacang mete Indonesia cukup besar, namun nilai ekspor masih sangat rendah . (Anonim1, 2012).

Nusa tenggara Timur merupakan salah satu sentra produksi jambu mete tersebar di beberapa Kabupaten terutama Nagekeo, Sikka, Flores Timur, Sumba Barat, Sumba Timur, Ende dan Timur Tengah Selatan. Total luas lahan jambu mete yang sudah digunakan di Kabupeten Nagekeo 1.252 ha dengan jumlah produksi dari  tahun ke tahun terus meningkat. Kabupaten Nagekeo adalah salah satu Kabupaten di Pulau Flores Provinsi Nusa Tenggara Timur yang merupakan daerah pengembangan dan penyebaran tanaman jambu mete. Luas Kabupaten ini adalah 1.417 Km² dan luasan sebaran tanaman jambu mete adalah 5.241 ha, dengan produksi mencapai 1.379 ton atau 599 kg/ha (Dinas Pertanian NTT, 2017).

Tulisan ini bertujuan untuk melakukan penilaian kelayakan teknis blok penghasil tinggi dan pohon induk terpilih jambu mete di Kab. Nagekeo yang akan ditetapkan kembali dengan SK Direktur Jenderal Perkebunan an. Menteri Pertanian sebagai kebun benih sumber.

 1. Penetapan Blok Penghasil Tinggi (BPT) Jambu Mete

Penetapan Blok Penghasil Tinggi jambu mete di Kabupaten Nagekeo dilaksanakan oleh  tim yang terdiri dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) Bogor, Direktorat Jenderal Perkebunan, Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya, Pengawas Benih Tanaman Provinsi NTT dan Dinas Pertanian (Bidang Produksi Perkebunan) Kabupaten Nagekeo.

Adapun tolak ukur penetapan Blok Penghasil Tinggi (BPT) dan Pohon Induk Terpilih (PIT) berdasarkan pada Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 327/Kpts/KB.020/10/2015 tanggal 30 Oktober 2015 tentang Pedoman Produksi, Sertifikasi, Peredaran dan Pengawasan Benih Tanaman Jambu Mete (Anacardium occidentale L.)

selengkapnya...


Agenda

Kritik Dan Saran

Pengunjung

Pengunjung hari ini : 50
Total pengunjung : 13997

Polling

Polling Layanan Informasi Website

Bagaimana layanan informasi yang tersedia di website ini ?
Sangat Baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang

Galeri Foto

Galeri Video

Copyright © 2017 Direktorat Jenderal Perkebunan - Kementerian Pertanian
Jl. Raya Mojoagung No.52, Gambiran, Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur 61482, Indonesia
Telp. : (0321) 496430; 495842 Fax : (0321) 496430 ; 495842. Email : balaibesarsurabaya@pertanian.go.id