Ketika Tonggeret Menjadi Hama, Kisah Mogannia minuta di Perkebunan Tebu
Diposting Wednesday, 21 January 2026 09:01 amTonggeret selama ini dikenal sebagai serangga bersuara nyaring yang hidup di alam liar dan jarang dikaitkan dengan kerusakan tanaman budidaya, namun pengalaman di Okinawa, Jepang membuktikan bahwa anggapan tersebut tidak selalu benar. Salah satu spesies tonggeret, Mogannia minuta Matsumura justru berkembang menjadi hama penting pada tanaman tebu dengan populasi yang sangat tinggi dan bertahan selama bertahun-tahun.
Dari Padang Rumput ke Perkebunan Tebu
Sebelum tahun 1960-an, M. minuta hanya ditemukan di padang rumput alami yang didominasi alang-alang (Miscanthus sinensis). Populasinya relatif rendah dan tidak pernah menimbulkan masalah berarti. Namun, situasi berubah ketika sistem budidaya tebu di Okinawa mengalami intensifikasi, terutama dengan penggunaan varietas baru dan sistem ratoon (tebu keprasan) yang dilakukan berulang-ulang tanpa olah tanah mendalam. Kondisi ini secara tidak langsung menciptakan habitat yang sangat sesuai bagi nimfa tonggeret yang hidup di dalam tanah. Tanpa gangguan pengolahan lahan, tingkat kelangsungan hidup nimfa meningkat drastis.
Ledakan Populasi yang Tidak Biasa
Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa kepadatan M. minuta di lahan tebu bisa mencapai ratusan hingga ribuan nimfa per meter persegi. Yang menarik, populasi ini relatif stabil dari tahun ke tahun dan hanya berkembang sangat lambat ke wilayah baru. Pola sebarannya membentuk “front vertikal”, yaitu peralihan yang sangat tajam antara area terserang dan tidak terserang. Fenomena ini berbeda dengan kebanyakan hama tanaman lain yang biasanya menyebar secara bertahap dan fluktuatif.
Teori “Escape”: Kunci Memahami Wabah
Di dalam jurnal (Itô dan Nagamine, 1981) menjelaskan bahwa wabah M. minuta menggunakan teori escape (pelarian dari musuh alami). Pada fase awal nimfa, tingkat kematian sangat tinggi terutama akibat predasi semut. Namun, jika populasi berhasil melewati ambang batas tertentu, jumlah tonggeret menjadi terlalu besar untuk dikendalikan oleh predator alami seperti semut, burung, dan kadal. Akibatnya, tonggeret “lolos” dari tekanan musuh alami dan mampu mempertahankan populasi tinggi dalam waktu lama. Fenomena serupa juga ditemukan pada tonggeret periodik (Magicicada) di Amerika, meskipun mekanismenya terjadi secara temporal, bukan spasial
Peran Praktik Budidaya
Selain faktor ekologis, praktik pertanian modern juga berperan besar. Penggunaan insektisida berbahan aktif organoklorin pada masa lalu diduga dapat menekan populasi semut dan predator lain sehingga memperlemah sistem pengendalian alami. Di sisi lain, pengurangan pengolahan lahan dan meningkatnya frekuensi ratoon memberikan keuntungan besar bagi tonggeret yang siklus hidupnya berlangsung di dalam tanah selama beberapa tahun. Dengan kata lain, wabah M. minuta bukan hanya persoalan serangga tetapi juga konsekuensi dari perubahan sistem pengelolaan perkebunan.
Tonggeret di Indonesia: Apakah Berpotensi Menjadi Masalah Serius?
Di Indonesia, tonggeret (Cicadidae) umumnya masih dipandang sebagai serangga liar yang hidup di perkebunan, hutan atau pekarangan tanpa menimbulkan kerugian ekonomi yang nyata. Namun, jika dicermati lebih dalam beberapa kondisi di Indonesia menunjukkan kemiripan ekologis dengan kasus wabah Mogannia minuta pada tebu di Okinawa, Jepang. Hal ini menjadi sinyal peringatan bahwa tonggeret berpotensi berubah status dari serangga netral menjadi hama penting apabila terjadi perubahan ekosistem yang signifikan.
Di berbagai wilayah Indonesia, tonggeret sering dijumpai pada: tebu, kelapa, kelapa sawit, kopi, kakao dan tanaman kehutanan (jati, mahoni, sengon). Sebagian besar spesies tonggeret mengisap cairan xilem pada akar atau batang. Pada populasi rendah, dampaknya nyaris tidak terasa. Namun, pada populasi tinggi, gejala seperti pertumbuhan terhambat, daun menguning, dan penurunan produksi berpotensi muncul, terutama akibat gangguan penyerapan air dan hara.
Kesamaan Kondisi dengan Kasus Okinawa
Beberapa faktor kunci di Indonesia yang mirip dengan situasi pemicu wabah Mogannia minuta antara lain:
- Sistem tanaman tahunan dan minim pengolahan tanah. Banyak perkebunan Indonesia (kelapa, sawit, kopi, kakao) tidak mengalami pengolahan tanah intensif selama bertahun-tahun. Kondisi ini sangat ideal bagi nimfa tonggeret yang hidup di dalam tanah dalam waktu lama, sama seperti pada tebu ratoon di Okinawa.
- Penurunan Musuh Alami. Penggunaan insektisida spektrum luas, terutama pada masa lalu, berpotensi menekan populasi: semut tanah, kumbang predator, laba-laba, burung pemakan serangga. Padahal, hasil penelitian di Okinawa menunjukkan bahwa semut merupakan faktor kematian utama nimfa tonggeret pada fase awal. Jika musuh alami ini berkurang, tonggeret berpeluang “lolos” dari pengendalian alami.
- Ambang Populasi dan Fenomena “Escape”. Selama populasi tonggeret masih di bawah ambang tertentu, predator mampu mengendalikannya. Namun bila populasi melampaui ambang ini, maka terjadi fenomena escape (jumlah tonggeret terlalu besar untuk ditekan oleh predator). Dalam kondisi tersebut, populasi dapat stabil pada tingkat tinggi dan sulit diturunkan, seperti yang terjadi pada minuta di Jepang.
Mengapa Tonggeret di Indonesia Belum Meledak?
Di Indonesia, wabah tonggeret hanya dilaporkan pada tahun 2024 dan 2025 di pertanaman tebu rakyat di Kecamatan Asembagus Kabupaten Situbondo, ditempat lain masih jarang dilaporkan. Beberapa kemungkinan penyebabnya:
- Keanekaragaman musuh alami masih relatif tinggi, terutama di perkebunan rakyat,
- Gangguan lingkungan alami (banjir, kekeringan ekstrem, pengolahan tanah lokal) masih cukup sering terjadi,
- Sistem pertanian yang beragam, tidak sepenuhnya homogen seperti perkebunan tebu intensif. Namun, dengan meningkatnya intensifikasi perkebunan dan penyeragaman sistem budidaya, kondisi ini dapat berubah.
Implikasi bagi Perlindungan Tanaman di Indonesia
Belajar dari kasus Okinawa, pengelolaan tonggeret di Indonesia sebaiknya bersifat preventif, bukan reaktif. Beberapa langkah penting antara lain:
- Pemantauan populasi nimfa di tanah, bukan hanya imago dewasa.
- Perlindungan musuh alami, terutama semut dan predator tanah.
- Pengelolaan lahan secara periodik, misalnya pengolahan tanah terbatas atau rotasi tanaman pada komoditas tertentu.
- Penggunaan insektisida secara selektif dan bijak, untuk mencegah rusaknya keseimbangan ekosistem.
Penutup
Kasus Mogannia minuta menunjukkan bahwa hama besar bisa berasal dari serangga yang sebelumnya tidak dianggap masalah. Tonggeret di Indonesia saat ini mungkin masih berada pada fase “aman” tetapi perubahan sistem budidaya dan ekosistem dapat menggeser keseimbangan tersebut. Bagi petugas perlindungan tanaman perkebunan, memahami dinamika ini sangat penting agar tonggeret tidak terlambat dikenali ketika sudah mencapai fase escape dan sulit dikendalikan. Kasus Mogannia minuta membuktikan bahwa serangga yang sebelumnya tidak merugikan dapat berubah menjadi hama serius akibat perubahan sistem budidaya dan ekosistem. Indonesia memiliki kondisi yang berpotensi mengarah pada situasi serupa. Kebijakan perlindungan tanaman perlu bergeser dari pendekatan reaktif menuju pendekatan preventif, ekologi, dan berbasis ambang populasi agar tonggeret tetap terkendali dan tidak menjadi masalah besar di perkebunan nasional. Pengelolaan ekosistem (olah tanah, varietas, dan penggunaan pestisida) harus dipertimbangkan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada produksi. Jika rekomendasi ini diterapkan, tonggeret di Indonesia dapat tetap berada pada status serangga non-hama, bukan menjadi masalah besar di kemudian hari.

