BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN SURABAYA
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

BBPPTP Surabaya Ciptakan Sponbox, Metode Perkembangbiakan Agens Pengendali Hayati yang Mudah dan Berkualitas

Diposting     Rabu, 10 Januari 2024 12:01 pm    Oleh    Admin Balai Surabaya



Perbanyakan jamur yang berperan sebagai agens pengendali hayati (APH) sudah dikenal dari tahun 1990 an sampai sekarang. Berbagai teknik pembuatan perbanyakan telah diperkenalkan melalui laboratorium hayati, Dinas yang membidangi perlindungan tanaman baik tanaman perkebunan, tanaman pangan dan hortikultura. Sampai saat ini sosialisasi teknik perbanyakan APH dengan media sederhana sudah sering dilakukan. Namun nilai keberhasilan sangat bervaiasi, di tingkat instansi yang mempunyai peralatan laboratorium bisa dikatakan mempunyai nilai diatas rata-rata, tetapi  untuk yang tidak mempunyai peralatan laboratorium lengkap terkadang masih terkendala. Keberhasilan di tingkat petani yang menerapkan perbanyakan dengan peralatan sederhana masih tergolong rendah dengan keberhasilan berkisar 30 -70%.

Teknik perbanyakan yang selama ini dilakukan menggunakan media perbanyakan dengan menggunakan beras jagung, beras biasa, sekam bekatul dan beberapa media lain seringkali mengalami kegagalan, Kegagalan tersebut disebabkan karena kontaminasi yang disebabkan karena kesalahan memasakan bahan, kurang steril. Pertumbuhan juga membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga jika sterilitas nya kurang baik maka mikroba kontaminan cenderung lebih cepat tumbuh. Tingkat kontaminasi tinggi dan masa simpan APH yang singkat menjadi satu kendala disaat perbanyakan APH di media sederhana

Kekurangan lain dari metode diatas adalah prosedur pembuatan yang cukup rumit, sehingga petani atau pengembang enggan membuat karena masih belum percaya diri apakah proses pembuatanya berhasil atau gagal. Media tumbuh yang digunakan untuk perbanyakan APH sangat berpengaruh pada masa tumbuh, spora yang dihasilkan.  Dengan metode perbanyakan media beras jagung dan lainnya selain mempunyai masa simpan yang relatif pendek, juga memerlukan penanganan khusus.

APH yang dikembangkan dengan metode  mempunyai masa yang cukup berat sehingga akan berpengaruh saat pengiriman ke tempat lain. Penanganan yang tidak sederhana terkadang menyebabkan APH yang digunakan sudah rusak dahulu pada masa penimbunan atau menunggu masa aplikasi. Pengaturan suhu dan kebersihan lingkungan harus diperhatikan.

 

Pertimbangan- pertimbangan tersebut diatas mendorong Balai Besar Perbenihan dan Proteksi tanaman Perkebunan untuk mengembangkan Metode Baru yang :

  1. Metode mudah digunakan untuk pengembangan APH
  2. Metode menghasilkan keluaran yang mempunyai kualitas baik
  3. Mengurangi kontaminasi dalam perbanyakan APH
  4. Mudah dan aman dalam perjalanan atau relokasi dari tempat satu ke tempat lain
  5. Mudah dalam aplikasi

Tahapan Pelaksanaan Kegiatan dalam pengembangan Metode

  1. Pra Uji meliputi menentukan bahan bahan yang dapat digunakan sebagai pengganti beras jagung, beras puth atau pun sekam bekatul
  2. Uji penentuan komposisi media dan bahan pembawa
  3. Uji mutu APH
  4. validasi Metode ke beberapa daerah

 

setelah metode ditetapkan maka dilakukan kegiatan untuk membuktikan apakah metode dapat diterapkan di wilayah lain. Tujuanya adalah metode tersebut memag benar bisa digunakan di berbagai tempat dengan kondisi iklim yang berbeda. Kegiatan  ini adalah melaksanakan validasi metode di lokasi yang berbeda untuk mengetahui kemampuan metode bisa di terima di seluruh lokasi yang berbeda

pelaksanaan  :

  1. Balai Perlindungan Perkebunan, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat
  2. Balai Proteksi Tanaman Pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan I. Yogyakarta
  3. Balai Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Provinsi Bali
  4. Balai Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Barat
  5. UPT Perbenihan, Kebun Dinas dan Laboratorium Hayati Perkebunan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Timur
  6. UPTD Benih dan Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Provinsi Banten
  7. Balai Perlindungan Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah

 

Metode yang dikembangkan adalah metode sponbox yaitu menggunakan spon yang diberikan nutrisi terpilih yang memudahkan jamut Trichoderma sp, dengan mudah bisa tumbuh dan membentuk spora dalam waktu yang singkat

Proses penyiapan media juga sangat mudah dan cepat hanya membutuhkan waktu 45 menit sudah siap inokulasi.

Selain itu bahan media yang digunakan adalah bahan yang sangat mudah didapat disekitar tempat tinggal kita.

Untuk dapat belajar dan melakukan perbanyakan dengan cara ini BBPPTP Surabaya membuka akses kepada lembaga yang mau magang ataupun bimtek.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *