BALAI BESAR PERBENIHAN DAN PROTEKSI TANAMAN PERKEBUNAN SURABAYA
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN

SEBARAN SERANGAN Hyphotenemus hampei PADA TANAMAN KOPI DI WILAYAH KERJA BBPPTP SURABAYA TRIWULAN I TAHUN 2022 – OLEH: WAHYU IRIANTO

Diposting     Rabu, 26 Oktober 2022 03:10 pm    Oleh    Admin Balai Surabaya



Kopi merupakan salah satu komoditas utama perkebunan yang merupakan penghasil devisa negara dan sumber pendapatan petani di Indonesia. Selain memiliki fungsi ekonomi yang penting, keberadaan tanaman kopi juga memiliki peranan penting dalam pengembangan wilayah terpencil serta dukungannya bagi pelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup dan juga memiliki fungsi sosial sebagai penyedia lapangan bagi 17,2 juta bagi petani yang berada pada sektor on farm perkebunan (Dirjen Bina Prod. Perkebunan, 2005).

 Luas areal kopi di Indonesia menempati urutan kedua terbesar setelah Brazil yaitu 1.235.802 ha yang sekitar 96% dari luas tersebut diusahakan oleh rakyat, 2,3% perkebunan swasta, dan 1,7% perkebunan negara (Ditjenbun, 2012). Dari keseluruhan luas pertanaman kopi tersebut, 73,02% (902.341 ha) merupakan tanaman kopi Robusata dan sisanya Arabika. Namun jika dilihat dari produksi, produktivitas tanaman kopi Indonesia sebesar 684.076 ton masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan negara produsen utama kopi di dunia lainnya dan hanya menempati urutan ketiga setelah Brazil (2.906.320 ton ) dan Vietnam (1.217.868 ton) (FAO, 2012).

Menurut Balittri (2015) Sebagian besar (96%) tanaman kopi disusahakan dalam bentuk perkebunan rakyat dengan keterbatasan modal dan akses terhadap teknologi terutama teknologi budidaya tanaman yang meliputi bahan tanaman, pemupukan, dan penglolaan organisme pengganggu tumbuhan, dengan tingkat produktivitas rendah (0,5 ton biji kering/ Ha/ Tahun). Salah satu penyebab rendahnya produktivitas kopi di Indonesia adalah belum digunakannya bahan tanaman unggul yang sesuai dengan agroekosistem tempat tumbuh kopi dan penerapan teknologi budidaya yang tidak standar serta masalah serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

            Beberapa hama dan penyakit yang ditemukan pada tanaman kopi diantaranya Penggerek Buah Kopi/ PBKo (Hyphotenemus hampei), Penyakit karat daun (Hemileia vastatrix), Penggerek cabang coklat (Xylosandrus morigerus ), penyakit bercak daun kopi (Cercospora coffeicola), kutu hijau (Coccus viridis) dan Penggerek Batang Kopi (Zeuzera coffeae).

 Luas Areal Tanaman Kopi

Data Triwulan I Tahun 2022 (Tabel  1) menunjukkan budidaya kopi paling luas di wilayah kerja BBPPTP Surabaya adalah Provinsi Jawa Timur yaitu 113,685,00 Ha, diikuti pada peringkat kedua Provinsi NTT dengan luasan 79,080.79 Ha,  kemudian ketiga Provinsi Jawa Barat 51,350.82 Ha, diikuti Jawa Tengah 36,364.13 Ha,  Bali 34,038.00 Ha,  Provinsi NTB 13,960.00 Ha, Provinsi Banten 6,241.12 Ha, dan urutan terakhir Provinsi DIY 1.725,64 Ha. Budidaya kopi terdapat di semua wilayah kerja BBPPTP Surabaya.

Tabel 1 . Luas Areal Tanaman Kopi Periode Triwulan I Tahun 2022

di Wilayah Kerja BBPPTP Surabaya

No. Provinsi Luas Areal (Ha)
1 Banten 6,241.12
2 Jawa Barat 51,350.82
3 Jawa Tengah 36,364.13
4 DIY 1,725.64
 5 Jawa Timur 113,685.00
6 Bali 34,038.00
7 NTB 13,960.00
8 NTT 79,080.79
Total 336,445.50

Serangan Hyphotenemus hampei Di Wilayah Kerja BBPPTP Surabaya

Serangan H. hampei adalah salah satu masalah terbesar produksi kopi global, yang dapat mengakibatkan kerugian besar dalam hasil panen yang berkisar dari 5% – 24% . Dalam kasus-kasus ekstrim dilaporkan kehilangan hasil sampai 50%.

Gambar 1. Peta Tingkat Serangan H. hampei  pada Kopi di Wilayah Kerja BBPPTP Surabaya Triwulan I tahun 2022

Serangan hama menyebar hampir di seluruh wilayah kerja dengan berbagai kategori tingkat serangan. Serangan sedang, terdapat di Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY dan Nusa Tenggara Barat. Serangan rendah terdapat di Provinsi Jawa Timur, Bali dan NTT dan aman dari serangan hama ini adalah Provinsi Banten. (Gambar 1 ).

Gambar 2. Perbandingan Luas Serangan H. hampei pada Kopi di Wilayah Kerja BBPPTP Surabaya antara Triwulan I 2022 dengan Triwulan IV 2021

Perbandingan luas serangan H. hampeii  antara Triwulan I Tahun 2022 dan Triwulan IV Tahun 2021 secara keseluruhan mengalami  penurunan luas serangan sebesar 188.13 Ha atau turun sebesar 4.27%.

Gambar 3. Perbandingan Luas Serangan H. hampei pada Kopi di Wilayah Kerja BBPPTP Surabaya antara triwulan I  tahun 2022 dengan triwulan I tahun 2021

Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat bahwa perbandingan luas serangan H. hampei pada triwulan I tahun 2022 dan triwulan I tahun 2021, secara keseluruhan mengalami  penurunan sebesar 341,55 Ha atau turun sebesar 7,49%.

Gambar 4. Perbandingan Luas Serangan dan Luas Pengendalian H. hampei pada Kopi di Wilayah Kerja BBPPTP Surabaya triwulan I 2022

Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat perbandingan luas serangan dan luas pengendalian yang telah dilakukan masing-masing wilayah. Luas Pengendalian keseluruhan mencapai 1.314,88 Ha atau sebesar 31.16%. Pengendalian dilakukan baik melalui APBN, APBD arau swadaya petani.

Pengendalian H. hampei

Pengendalian hama Penggerek Buah Kopi (PBKo) disarankan:

  1. Melakukan pengaturan     naungan agar pertanaman tidak terlalu gelap
  2. Secara biologis, dengan penggunaan parasitoid Cephalonomia stephanoderis serta aplikasi jamur entomopatogen Beauveria bassiana
  3. Menggunakan tanaman yang masak serentak seperti USDA 762 untuk arabika dan BP 234 dan BP 409.
  4. Sanitasi dilakukan dengan petik buah. Petik buah adalah mengambil semua buah yang rusak awal karena serangan, rampasan adalah mengambil semua buah yang ada di panen, sedangkan lelesan adalah mengambil buah yang ada di tanah.
  5. Pengendalian harus dilakukan bila intensitas serangan >10%.

DAFTAR PUSTAKA

Balittri. 2015. Perakitan Teknologi untuk Peningkatan Produksi dan Mutu Hasil Perkebunan Kopi Rakyat. https://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/?p=7634.

Direktur Jenderal Bina Produksi Perkebunan. 2005. Kebijaksanaan, Sistem Kelembagaan dan Keragaan PHT Perkebunan di Indonesia. Makalah pada Ekspose dan Pameran PHT. Memasyarakatkan Pengendalian Hama Terpadu untuk Mendukung Pembangunan Perkebunan yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan. Jogjakarta 28-29 Mei 2005. 9.  

Food and Agriculture Organization. 2012. Production and Trade . Faostat.org. https://www.fao.org

Gunuang Talang. 2011. Hama Tanaman Utama Kopi Arabika – Kutu Hijau (Coccus viridis/ Green Coffee Scale). Gunuang Talang Coffee. https://gunuangtalangcoffee.blogspot.co.id/2011/12/hama-tanaman-utama-kopi-arabika-kutu.html.


Bagikan Artikel Ini  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *